rumah rakit palembang

Kota Palembang mempunyai bagunan khas yang bernama Rumah Rakit. Kota Palembang banyak dialiri oleh sungai. Kondisi yang seperti ini yang membuat masyarakat Palembang mendirikan Rumah Rakit. Rumah Rakit ini berada di daerah sungai. Rumah ini adalah rumah tinggal tetap namun terapung.

Rumah Rakit adalah rumah adat tertua di Kota Palembang. Rumah adat ini dibangun pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Pada zaman dahulu, warga asing harus menetap di atas rakit bahkan kantor dagang milik Belanda yang pertama berada di atas rakit lengkap dengan gudangnya. Rumah Rakit ini selain menjadi tempat tinggal dapat berfungsi tempat terjadinya pusat kegiatan ekonomi.

Rumah Rakit didirikan di daerah aliran sungai. Tempat untuk mendirikan Rumah Rakit bergantung ada tidaknya perairan yang masih tersedia untuk didirikan rumah ini. Awalnya Rumah rakit didirikan menghadap ke daratan karena berfungsi untuk menarik wisatawan. Namun, sekarang rumah rakit telah menghadap ke tengah sungai.

Mayarakat yang ingin mendirikan Rumah Rakit sebelumnya harus mengadakan pertemuan terlebih dahulu. Pertemuan itu untuk membicarakan keinginan untuk mendirikan Rumah Rakit serta memohon ijin kepada masyarakat sekitar. Apabila pertemuan sudah dianggap tuntas maka disiapkanlah bahan-bahan untuk mendirikan Rumah Rakit. Setiap bahan harus dipilih sesuai rencana dari kontruksi Rumah Rakit.

Rumah adat ini terbuat dari bambu, kayu, atap nipah, sirap dan sekarang ada yang menggunakan atap dari seng. Rumah ini didirikan di atas rakit. Rakit bisa terbuat dari kayu maupun balok. Pintu dari rumah adat Palembang ini ada dua yang satu menghadap laut dan satunya menghadap daratan. Rumah Rakit adalah warisan dari leluhur dan sudah melewati berbagai generasi.

Supaya bangunan Rumah Rakit tidak berpindah tempat maka dipasang tiang yang kokoh di keempat sudutnya.  Bangunan pun diikiat dengan tali yang besar untuk menambahkan kekokohan dari Rumah Rakit ini. Tali besar diikatkan ke sebuah tongak yang kokoh yang ada di tebing sungai. Tali itu menjadi antisipasi apabila tonggak pada sudut-sudut rumah lapuk ataupun rusak.

Namun lambat laun karena keterbatasan bahan dan perubahan cara berpikir masyarakat, keberadaan Rumah Rakit menjadi langkah. Pemerintah pun beranggapan bahwa keberadaan Rumah Rakit menyebabkan pemandangan yang kumuh di sekitar Sungai. Rumah adat Palembang ini juga dianggap sebagai sumber dari pencemaran air sungai. Hal ini dikarenakan banyak warga yang langsung membuang sampah ke dalam sungai. Dari sisi kesehatan pencemaran sungai menyebabkan banyak timbul wabah penyakit bagi masyrakat.

Sebenarnya jika kekurangan dari Rumah Rakit ini dikelolah dengan baik, rumah adat Palembang ini dapat memberikan sejumlah manfaat bagi kita. Rumah Rakit ini dapat menjadi penopang perekonomian daerah untuk dijadikan objek wisata. Selain karena bentuknya yang unik, jika kita masuk ke dalam Rumah Rakit ini akan nyaman dan menenagkan hati. Cocok bagi wisatawan atau orang-orang yang ingin berlibur melepaskan rasa lelah atas rutinitas sehari-hari.

Seharusnya pemerintah daerah pun mendukung untuk pembangunan kembali Rumah Rakit. Namun dalam pembangunannya juga harus memperhatikan masyarakat asli yang tinggal di Rumah Rakit. Jangan sampai para pelaku bisnis menggusur masyarakat asli Rumah Rakit ini. Para masyarakat asli harus diberi pelatihan untuk dapat siap menghadapi wisatawan lokal maupun asing yang akan berdatangan jika pembangunan kembali Rumah Rakit dilakukan kembali. Karena mungkin saja masyarakat asli rumah adat Palembang ini dapat mendapatkan mata pencaharian baru yang menghasilkan. Jadi bagi kalian Wong Palembang, mari dukung untuk bangkitkan kembali keberadaan Rumah Rakit rumah adat Palembang.

 

 

 

 

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here